Theu Fu Shui, ikut nge-trip yok ke Pangkal Pinang
Theu Fu Sui
Terkesan seperti menu yang berasal dari negeri bambu kuning, ternyata segelas susu kedele yang
disajikan panas. Theu Fu Sui dinikmati
dengan cemilan otak-otak yang disajikan dengan berbagai rasa. Ada otak-otak
yang disajikan seperti bakso bakar, ada yang berbentuk tabung, ada yang Cuma
diiris berbentuk kubus, bahkan ada yang dibungkus dengan daun pisang dan
dibakar, yang jelas semua bahan dasarnya dari ikan. Semua disajikan sekali
suap, agar masuk mulut sekaligus. “Ini apa Tan? Kok seperti pepes teri
dibungkus kecil-kecil dan dibakar? Tanya bidadari saya yang sering dipanggil
dengan Kakak Prayu (saya suka dengan sebutan ini untuk anak perempuan saya, yang kami beri nama Prayu,,,biar ayu
hati dan parasnya bak ratu hahaha). “Itu
otak-otak bakar, kakak Prayu, “ jawab Om Anto mewakili istrinya Tante Reny.
“Nanti kalau mau otak-otak dengan berbagai rasa, besok
ke rumah makan khusus saja ya,”kata Tante Reny. Disepanjang jalan yang kami
lalui menuju tempat nongkrong kali ini, tercium bau hmm,,, makanan khas dengan
menu utama otak-otak. Mata saya hampir tidak berkedip terus menembus keluar
kaca jendela mobil, seakan takut kehilangan pemandangan yang baru ini. Wow
ternyata ,,, ayah,,, Kakak Prayu juga asyik membuang pandang, seperti mata
elang yang mampu menerobos gelapnya malam, saya kok alih profesi jadi peramal
yang mencoba menebak mata hati orang.
Kebisuan ini terkuak dengan teriakan kecil dari Si
Cantik Alya, “Kakak Prayu,,, Budhe,,,Pakdhe,,, sudah sampai nhi,,,
makan,,,makan,,,makan,,, mau,,,mau,,mau,,,”. Benar juga mobil sudah terparkir
di pinggir jalan dekat dengan tenda hijau dengan lampu agak sedikit remang.
“Wow HIK (hidangan istimewa kampung khas solo),”gumam saya. Kami dipersilahkan
masuk oleh seorang laki-laki seumuran anak saya, bak sales promotion boy.
Sebegitunya yaaa. Bedanya dengan pakaian seadanya tapi rapi dan bersih, tidak
berkostum a’la pramu saji di resto-resto.
Saya mengira HIK ternyata,,, bukan,,, hanya nuansanya
saja,,,sinar lampu temaram bak cafe di ibukota,,, tempat duduk dengan dekorasi
beragam. Melingkar dengan meja bundar terbuat dari plastik. Persegi panjang
dengan kursi kayu panjang berhadapan. Mirip bujur sangkar dengan meja kotak
terbuat dari palstik dan pelanggan duduk mengitari meja. “Pesen apa Budhe?
Minumnya apa Kakak Prayu?”, tanya Tante Reny. “Otak-otak bermacam rasa kita
pesen saja mah, dan minum andalan juga kita pesan”, kata Om Anto.
Selepas mata memandang terlihat orang-orang berkantong
tebal yang mulai memenuhi lapak-lapak pinggir jalan. “Wow,,,fortuner
merapat,,,daaan berjajar deretan mobil yang lumayan mengempiskan kocek,”decak
kagum mulai menghampiri dada ini. Sabaaar ,,,semua itu adalah fana, dua sisi
dari segumpal darah di tubuh saya mulai berebut sebuah kebenaran. “Bund,,,mau
nambah pesanan apalagi, ditunggu Tante Reny,” sapa lembut bidadari saya. Coretan
tangan Tante Reny sudah sangat indah,,, alias semua sudah dipesan.
Template masih saya pelototi, seakan ingin mencari
sesuatu yang masih tersisa. “Apaan sih bunda, sebegitunya melihat menu yang
akan dipesan,”suara nyaring dari bibir bidadari cantik disamping kiri saya
seketika menghentikan penjelajahan ini. “Assalamualaikum,,,silahkan
ibu,,,silahkan bapak,,,silahkan kakak,,,”, sapa pramusaji (enggak apa-apa saya
pakai sebutan a”la restoran, karena memang berpakaian bersih dan sopan
hahaha)sambil menghidangkan pesananan minuman kami. Hitungan menit pesanan
terhampar di depan kami.
Minuman hangat,,, puanas kalik,,,siap berpindah ke alam
lain, sedikit demi sedikit lama-lama mejadi habis. Kenikmatan yang tiada
duanya, mencicipi susu kedelai dengan harga yang sangat mahal. Harus
menyeberang laut. “Kalau hanya seperti ini,,,di desaku mah,,, buanyak buanget.
Bahkan asli. Bisa ambil sendiri dari produsennya. Boyolali penghasil susu nomor
wahid seindonesia to”, batin saya sambil senyum-senyum sendiri.
“Assalamualaikum, permisi, sialhkan,,,”, berikut datang otak-otak bakar.
Pedagang ini mengagumkan.
Saya begitu kagum dan mengacungi dengan dua jempol (enggak
berani kalau dengan empat jempol, takuut) dengan para pramusajinya. Betapa
tidak, setiap kali menyajikan pesanan dari para pelanggan, setiap kali itu juga
ia mengucapkan salam dan terimakasih.
Orang jawa yang terkenal dengan keluhuran budi dan sopan-santunnya masih
tertinggal jauh dengan kota yang pernah dijuluki The Cyber City oleh mantan walikota Zulkarnain Karim kisaran
tahun dua ribu tiga ini.
“Yang ini kayaknya enah nhi, ayo nambah,, siapa mau?
Siapa mau?”, kata Om Anto sambil mengibas-ibaskan tangan di depan mulutnya, bak
penjual sate ayam hahaha, nampaknya
makanan yang disantap terlalu panas. Memang otak-otak paling nikmat kalau disantap ketika masih berasa panas. Luar
biasa. Entah berapa butir yang melewati
tenggorokan saya, yang lain kayaknya sama tuuu. “Berapa bund yang sudah beralih
ke perut kita?”tanya ayah seperti nya
pertanyaan juga untuk diri ayah, saya hanya menaikkan pundak, tanda mengiyakan.
Binar mata si cantik Alya mulai kehilangan sinarnya,
mengantuk nhi bocah. Daaaan jatuhlah dibelai dada sang mama. Jarum panjang jam di tangan saya menunjuk ke angka
sebelas. Wow sudah semakin larut nampaknya, sebentar lagi sang rembulan akan
menuju ke peraduan. Digantikan sang fajar. Ayah mulai terdengar menguap, walau pelan
seakan tak terdengar. Tante Reny sudah mulai kepayahan dengan dua krucilnya,
walaupun yang satu masih digua sang mama. Suara saya,,, suara Om Anto tinggal
patah-patah. Sang juara begadang tetap Kakak Prayu, yang tetap assyik dengan
androidnya dengan berbagai unduhannya.
“Okey,,, kita lanjutkan besok malam lagi, Kakak Prayu?
Kita pulang, istirahat dulu. Biar besok pagi kembali segar”, kata Om Antok
sambil melambaikan tangan ke arah pedagangnya. Bill berpindah ke tangan Om Anto
lengkap dengan jumlah makanan yang sudah kami santap dan jumlah uang yang harus
dibayar, lembaran ratusan ribu sebagai gantinya, diterima pemilik The Fu Sui.
Jalanan yang sudah mulai sedikit dari para pejalan,
ditambah hawa dingin yang dikeluarkan oleh air condition, serta mata kami yang
sudah tidak bisa diajak kompromi membuat perjalanan pulang bak melewati tanah
pemakaman, sepiii. Hanya sesekali terlihat sinar dari android Kakak Prayu yang
masih setia chating dengan teman-temannya. Hmmm paling ya kabar-kabari kalau
diirinya sedang liburan ke kota dengan
julukan The Victory of City.
walah kok masih ngikut soal pat ne
BalasHapus